Default Header

Ringkasan: Global People Resilience Study 2026 dari Zurich Insurance Group menemukan bahwa 88% pekerja dengan resiliensi tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik. Pada kelompok resiliensi terendah, angkanya 44%. Di Indonesia, selisihnya serupa: 89% berbanding 50%. Artikel ini membahas arti angka itu, batasnya, dan langkah praktis yang bisa Anda ambil.

Apa itu Studi Zurich tentang Pekerja Tangguh?

Studi Zurich Sebut Pekerja Tangguh 2 Kali Lebih Sering Berkinerja Baik

Studi Zurich adalah riset Global People Resilience Study 2026 yang dirilis Zurich Insurance Group bersama Oxford Research & Development Partners pada 23 September 2026. Hasil utamanya: pekerja dengan resiliensi tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik dua kali lebih sering daripada pekerja dengan resiliensi terendah.

Satu klarifikasi penting. “Zurich” di sini adalah perusahaan asuransi global yang berkantor pusat di Swiss. Bukan Universitas Zurich. Kerangka ukurnya, Personal Resilience Index, dikembangkan bersama Profesor Jan-Emmanuel De Neve, Direktur Wellbeing Research Centre di University of Oxford.

Menurut rilis resmi Zurich, indeks itu bersifat proprietary, yaitu milik Zurich Insurance Group.

Siapa yang Disurvei dan Bagaimana Resiliensi Diukur?

Peta dunia di papan buletin yang ditandai dengan pin di enam belas negara, mewakili luasnya jangkauan survei global.

Survei menjangkau 11.175 orang dewasa usia kerja di 16 negara. Indonesia termasuk di dalamnya, bersama Australia, Brasil, Chile, Jerman, Hong Kong, Irlandia, Italia, Malaysia, Meksiko, Belanda, Spanyol, Swiss, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Amerika Serikat.

Responden berusia 18 sampai 69 tahun dengan rata-rata 38 tahun. Komposisinya hampir seimbang: 49% perempuan dan 51% laki-laki. Sampel per negara berkisar 499 sampai 1.110 orang, menurut Zurich.

Resiliensi diukur dari tiga dimensi: keyakinan, kemampuan, dan perilaku. Dimensi itu dipetakan ke lima domain kehidupan: psikologis, fisik, sosial, finansial, dan digital. Zurich menyebut kerangkanya disusun dari lebih dari 130 makalah akademik.

Zurich membedakan resiliensi dari kesejahteraan (wellbeing). Kesejahteraan menggambarkan kondisi hari ini. Resiliensi melihat ke depan: seberapa siap seseorang menjaga dan memulihkan kondisinya saat perubahan datang, menurut halaman laporan Zurich.

Apa Arti “2 Kali Lebih Sering Berkinerja Baik”?

Diagram batang tulisan tangan di papan tulis yang membandingkan persentase kinerja antara pekerja beresiliensi tinggi dan rendah.

Angka dua kali berasal dari perbandingan sederhana: 88% dibagi 44%. Pekerja dengan resiliensi tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik pada 88% kasus. Pekerja dengan resiliensi terendah melaporkannya pada 44% kasus.

Zurich juga melaporkan dua temuan pendukung:

  • Hubungan resiliensi dan kinerja berlaku di berbagai pekerjaan dan jenjang jabatan, dari staf hingga pemimpin senior.
  • Resiliensi 2,5 kali lebih prediktif terhadap kinerja dibanding pendapatan.

Ada dua hal yang perlu dibaca dengan hati-hati. Pertama, ukuran kinerjanya dilaporkan sendiri oleh responden, bukan dinilai atasan atau diukur dari output. Kedua, studi ini tidak membuktikan bahwa resiliensi menyebabkan kinerja lebih baik. Kedua catatan itu disampaikan Insurance Business dalam liputannya.

Jadi kalimat yang akurat adalah ini: resiliensi tinggi berkaitan kuat dengan kinerja yang dilaporkan baik. Kalimat “resiliensi membuat Anda dua kali lebih berkinerja” melampaui data.

Mengapa Temuan Ini Penting di 2026?

Seseorang secara perlahan menyusun balok kayu, merepresentasikan upaya menjaga keseimbangan dan kelenturan di tengah ketidakpastian.

Zurich membingkai temuan ini dengan latar yang akrab bagi pekerja Indonesia: ketidakpastian ekonomi, perubahan demografi, dan teknologi yang bergerak cepat. Alison Martin dari Zurich menyatakan bahwa jawabannya bukan menuntut ketahanan lebih besar dari individu. Perusahaan perlu memastikan karyawan punya keyakinan, dukungan, dan keterampilan untuk beradaptasi.

Ada tiga alasan temuan ini relevan untuk pembaca umum, bukan hanya HR.

Pertama, resiliensi bukan sifat bawaan yang tetap. Zurich menyebutnya kapabilitas yang bisa dikembangkan seiring waktu. Kedua, resiliensi terkait dengan keterlibatan kerja. Karyawan paling tangguh lebih dari empat kali lebih mungkin merekomendasikan perusahaannya, dengan eNPS 75 poin lebih tinggi dibanding kelompok paling rapuh.

Ketiga, faktor yang membentuk resiliensi ternyata konkret: tidur, relasi sosial, kepercayaan diri digital, dan kesiapan finansial. Semuanya bisa dilatih. Untuk fondasi mentalnya, Anda bisa mulai dari cara tetap tangguh saat dunia tidak pasti.

Bagaimana Hasilnya untuk Indonesia?

Layar monitor komputer menampilkan dasbor statistik profil pekerja Indonesia dengan skor resiliensi yang tinggi.

Indonesia termasuk 16 negara yang disurvei, dengan 504 responden. Profil negaranya memuat gambaran yang lebih tajam daripada angka global. Berikut ringkasannya, menurut profil Indonesia dari Zurich.

IndikatorIndonesiaPembanding global
Skor resiliensi keseluruhan4,374,11 (rata-rata)
Pekerja kategori “thriving” (skor di atas 4,5)53%—
Pekerja kategori “maintaining” (3,5–4,5)44%—
Pekerja kategori “struggling” (di bawah 3,5)3%—
Kinerja baik/sangat baik, resiliensi tinggi89%88%
Kinerja baik/sangat baik, resiliensi rendah50%44%
Tanpa dana cadangan34%49%
Pengguna AI generatif harian54%32%
Melaporkan kualitas tidur buruk10%17%
Pekerja yang menjadi pengasuh (caregiver)73%63%

Skor Indonesia berada di atas rata-rata global. Namun profil itu menandai domain sosial sebagai yang terlemah, padahal pengaruhnya besar terhadap resiliensi keseluruhan. Domain digital disebut sebagai peluang, karena penting tetapi skornya termasuk rendah. Domain fisik justru menjadi kekuatan.

Kesenjangan pendapatan menjadi pembelah paling tajam. Penghasil tertinggi mencetak 4,59, sedangkan penghasil terendah 4,25. Butir dengan skor terendah adalah dana cadangan dan keyakinan bahwa asuransi memenuhi kebutuhan. Butir tertinggi adalah dorongan belajar keterampilan baru dan kemampuan menilai ulang pendekatan.

7 Temuan Utama Studi Zurich 2026

Buku catatan spiral berisi ringkasan poin temuan utama dari riset, diletakkan berdampingan dengan secangkir kopi hitam.
#TemuanAngkaSumber
1Kinerja baik/sangat baik: resiliensi tertinggi vs terendah88% vs 44%Zurich
2Daya prediksi resiliensi dibanding pendapatan2,5 kaliZurich
3Kemungkinan merekomendasikan perusahaanLebih dari 4 kali; eNPS +75 poinZurich
4Domain finansial: terlemah secara global, tapi salah satu kontributor terkuat51% yakin bisa bertahan beberapa bulan tanpa penghasilanZurich
5Pengguna rutin AI generatifSkor resiliensi lebih tinggi, bahkan setelah faktor demografi dan tempat kerja diperhitungkanZurich
6Tidur yang baikSkor lebih tinggi di setiap domain kehidupanZurich
7Pengasuh (caregiver)Skor resiliensi lebih tinggi daripada non-pengasuhZurich

Temuan nomor tujuh bertentangan dengan dugaan umum bahwa mengurus keluarga menggerus daya tahan. Zurich menyebut hasilnya berlawanan dengan ekspektasi itu. Studi tidak menjelaskan mekanismenya, jadi jangan menarik kesimpulan lebih jauh dari angkanya.

Lima Domain Resiliensi dan Cara Melatihnya

Susunan lima objek berbeda di atas meja yang melambangkan domain psikologis, fisik, sosial, finansial, dan digital.

Lima domain di bawah ini adalah kerangka Zurich. Langkah praktisnya adalah saran editorial kami yang selaras dengan domain tersebut. Itu bukan intervensi yang diuji dalam studi.

Psikologis. Domain ini mencakup keyakinan bahwa Anda mampu menghadapi perubahan. Kebiasaan refleksi membantu melatihnya. Anda bisa memakai meditasi dan journaling untuk meredakan stres sebagai titik awal. Menilai ulang kegagalan juga termasuk di sini, seperti yang dibahas dalam tulisan tentang belajar dari kegagalan untuk membangun ketahanan.

Fisik. Studi menyoroti tidur sebagai fondasi yang sering terlupakan. Pekerja yang tidurnya baik melaporkan skor lebih tinggi di semua domain. Memperbaiki jam tidur adalah langkah berbiaya rendah dengan potensi dampak luas.

Sosial. Zurich menyebut domain sosial sebagai pengganda: ia memperkuat kapasitas di domain lain. Di Indonesia, domain ini justru yang terlemah. Membangun kebiasaan bertanya kabar ke rekan kerja, atau punya satu kelompok sebaya untuk saling bertukar masalah kerja, adalah langkah paling realistis.

Finansial. Hanya 51% pekerja global yakin bisa bertahan beberapa bulan tanpa penghasilan. Di Indonesia, 34% responden tidak punya dana cadangan. Mulai dari target kecil yang konsisten lebih berguna daripada target besar yang tidak pernah dimulai.

Digital. Pengguna rutin AI generatif punya skor resiliensi lebih tinggi. Artinya bukan “pakai AI pasti lebih tangguh”, melainkan kepercayaan diri menghadapi teknologi baru berjalan beriringan dengan kemampuan beradaptasi. Bagi yang ingin mulai, ada pembahasan tentang memakai AI untuk bekerja lebih produktif.

Cara Menerapkannya: 7 Langkah untuk Individu

Ponsel yang menampilkan aplikasi pengatur waktu tidur bersisian dengan jam alarm, menyimbolkan langkah praktis memperbaiki kualitas istirahat.

Cara membangun resiliensi kerja: 1) ukur titik awal, 2) rapikan tidur, 3) bangun dana cadangan kecil, 4) perkuat satu relasi kerja, 5) pelajari satu alat digital, 6) latih refleksi, 7) ulangi tiap kuartal.

  1. Ukur titik awal. Beri nilai 1 sampai 5 pada lima domain di atas. Domain dengan nilai terendah menjadi prioritas.
  2. Rapikan tidur selama dua minggu. Tetapkan jam tidur dan bangun yang konsisten. Catat perubahan energi Anda.
  3. Mulai dana cadangan kecil. Sisihkan nominal tetap tiap gajian, sekecil apa pun. Konsistensi lebih penting dari jumlah awal.
  4. Perkuat satu relasi kerja. Pilih satu rekan yang bisa diajak bertukar masalah. Jadwalkan obrolan rutin.
  5. Pelajari satu alat digital. Pilih alat yang relevan dengan pekerjaan Anda. Pakai pada satu tugas nyata minggu ini.
  6. Latih refleksi mingguan. Tulis tiga hal yang berjalan baik dan satu hal yang ingin diubah.
  7. Ulangi tiap kuartal. Nilai ulang lima domain. Lihat apakah titik terlemah sudah bergeser.

Generasi muda yang baru masuk dunia kerja punya tantangan khusus. Anda bisa membaca konteksnya di tulisan tentang pengembangan diri Gen Z di tempat kerja.

Untuk Pemberi Kerja dan HR: Apa yang Disarankan Zurich?

Dua pekerja saling berjabat tangan erat, melambangkan upaya membangun koneksi sosial dan dukungan sebaya di lingkungan kerja.

Rekomendasi Zurich untuk bisnis dan pemimpin di Indonesia, menurut profil negaranya, ada tiga:

  1. Bangun kepercayaan diri digital lebih dulu. Prioritaskan pelatihan literasi digital dan kebiasaan keamanan yang lebih kuat.
  2. Perkuat koneksi sosial. Tambahkan program dukungan sebaya, kepercayaan tim, dan pembangunan komunitas.
  3. Sasar kesenjangan pendapatan secara langsung. Penghasil terendah mencetak skor terendah. Zurich menyarankan intervensi tertarget, bukan satu program untuk semua.

Ada konteks yang patut dicatat. Program kesejahteraan sering kurang dimanfaatkan. Hampir satu dari empat pemberi kerja yang disurvei Gallagher mengatakan kurang dari 20% karyawan berhak memakainya, seperti dilaporkan HCA Magazine. Data itu berasal dari konteks Amerika Serikat. Namun pelajarannya berlaku luas: ukur pemakaian, jangan hanya menyediakan programnya.

Batas Studi: Yang Belum Bisa Disimpulkan

Timbangan mekanik yang hanya berisi dokumen di satu sisinya, merepresentasikan kehati-hatian dalam menafsirkan korelasi versus kausalitas.

Ada empat batas yang perlu Anda ingat sebelum mengutip studi ini.

Kinerja dilaporkan sendiri. Responden menilai performa mereka sendiri. Orang yang merasa percaya diri mungkin menilai dirinya lebih tinggi, terlepas dari output nyata.

Korelasi, bukan sebab-akibat. Studi tidak menunjukkan bahwa meningkatkan resiliensi akan menaikkan kinerja. Hubungan bisa berjalan dua arah. Orang yang berkinerja baik mungkin juga merasa lebih tangguh.

Kepentingan penerbit. Zurich adalah perusahaan asuransi, dan temuan finansialnya mengarah pada isu perlindungan. Analisis HCA Magazine mencatat bahwa temuan Zurich tidak menunjuk ke pembelian produk baru, melainkan ke pemetaan siapa yang paling rentan dan siapa yang membayar untuk menutup celahnya. Tetap saja, pembaca berhak tahu siapa yang mendanai riset.

Satu studi, belum direplikasi. Studi ini baru dirilis September 2026. Belum ada replikasi independen yang kami temukan.

Sebagai pembanding, riset Aon tahun 2020 di lima negara Eropa menemukan pola serupa untuk motivasi: 86% karyawan resilien melaporkan motivasi tinggi, dibanding 44% pada karyawan yang tidak resilien, menurut Workplace Insight. Ukurannya berbeda, yaitu motivasi dan bukan kinerja. Metodologi dan negaranya juga berbeda. Meski begitu, arah polanya konsisten.

FAQ: Studi Zurich dan Pekerja Tangguh

Apa itu Studi Zurich tentang pekerja tangguh?
Studi Zurich adalah Global People Resilience Study 2026 dari Zurich Insurance Group dan Oxford Research & Development Partners. Survei terhadap 11.175 pekerja di 16 negara menemukan bahwa pekerja dengan resiliensi tertinggi melaporkan kinerja baik atau sangat baik dua kali lebih sering: 88% dibanding 44%.

Apakah resiliensi membuat kinerja lebih baik?
Belum bisa dipastikan. Studi menunjukkan hubungan yang kuat, tetapi tidak membuktikan sebab-akibat. Ukuran kinerjanya juga dilaporkan sendiri oleh responden. Hasilnya sebaiknya dibaca sebagai korelasi.

Apakah Indonesia termasuk dalam survei?
Ya. Indonesia salah satu dari 16 negara, dengan 504 responden. Skor resiliensi Indonesia 4,37, di atas rata-rata global 4,11. Domain sosial menjadi yang terlemah, dan domain digital disebut sebagai peluang.

Bagaimana cara mulai membangun resiliensi kerja?
Cara memulai: 1) beri nilai lima domain resiliensi, 2) perbaiki tidur, 3) mulai dana cadangan kecil, 4) perkuat satu relasi kerja, 5) pelajari satu alat digital. Langkah ini saran editorial yang selaras dengan domain studi, bukan intervensi yang diuji.

Apakah resiliensi itu sifat bawaan?
Menurut Zurich, bukan. Resiliensi disebut sebagai kapabilitas yang dapat dikembangkan seiring waktu, bukan ciri kepribadian yang tetap.

Sumber


Ditulis oleh Redaksi damienmjones.