Ringkasan: Survei Deloitte 2025 mencatat 86% Gen Z global mencari mentorship di tempat kerja, dan 88% menilai pembelajaran langsung di lapangan sebagai cara berkembang paling efektif. Di Indonesia, riset Jakpat menemukan pola serupa: mayoritas Gen Z dan Milenial aktif melakukan aktivitas pengembangan diri.
Apa Artinya Gen Z “Termotivasi Kembangkan Diri” di Tempat Kerja?

Survei Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 mencatat 86% Gen Z mencari mentorship dan bimbingan, sementara 88% menilai pembelajaran langsung di lapangan penting untuk pengembangan skill mereka. Angka ini menunjukkan pola konsisten: Gen Z tidak menolak belajar, mereka hanya menuntut cara belajar yang berbeda dari generasi sebelumnya.
Pola ini juga terlihat pada studi lain. Riset Udemy terhadap lebih dari 6.500 pekerja lintas generasi menemukan Gen Z sebagai kelompok paling termotivasi oleh pengembangan profesional (65%), dibanding Milenial dan Gen X. Temuan ini membantah anggapan bahwa Gen Z kurang berambisi di dunia kerja.
Mengapa Angka Ini Penting bagi Perusahaan dan Individu di 2026

Gen Z kini menjadi kelompok pekerja dengan populasi terbesar di banyak kantor. Zurich Insurance mencatat Gen Z sudah menyumbang 30% populasi dunia dan diproyeksikan menjadi 27% angkatan kerja global pada 2026. Perusahaan yang gagal memfasilitasi kebutuhan belajar mereka berisiko kehilangan talenta lebih cepat dari generasi sebelumnya.
Namun ambisi ini berjalan beriringan dengan tekanan mental yang nyata. Survei Seramount 2025 menemukan 72% Gen Z melaporkan setidaknya satu gejala burnout, dibanding 62% Gen X dan 38% Baby Boomer. Artinya, dorongan untuk berkembang perlu dibarengi ruang pemulihan, bukan sekadar target produktivitas baru. Topik ini pernah dibahas lebih detail dalam 15 kebiasaan wellness Gen Z untuk menjaga kesehatan mental.
Sisi positifnya, ambisi belajar Gen Z tidak selalu berujung pada keinginan naik jabatan secepat mungkin. Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2026 mencatat generasi ini kini lebih memprioritaskan stabilitas, penguasaan skill, dan kesejahteraan dibanding kenaikan karier yang serba cepat. Hanya 6% Gen Z yang menjadikan posisi kepemimpinan senior sebagai tujuan karier utama mereka, meski learning and development tetap masuk tiga alasan teratas memilih tempat kerja.
Data Indonesia: Bagaimana Gen Z dan Milenial Lokal Kembangkan Diri

Pola global ini juga tampak di Indonesia. Survei Jakpat bertajuk Exploring Self-Development Trends Among Gen Z and Millennials, yang melibatkan 1.549 responden pada Maret 2025, menemukan 55% responden berencana melakukan kegiatan pengembangan diri dan 32% sedang menjalankannya saat survei berlangsung.
Alasan utamanya bukan sekadar tren. Sebanyak 62% responden mengaku termotivasi untuk memperluas wawasan, sementara 58% ingin meningkatkan kualitas hidup. Aktivitas yang dipilih pun beragam — mulai dari rutinitas personal hingga pembelajaran formal.
| Aktivitas Pengembangan Diri | Persentase Responden | Sumber |
|---|---|---|
| Memperbanyak ibadah | 61% | Jakpat, 2025 |
| Melatih rasa syukur | 56% | Jakpat, 2025 |
| Menata hidup lebih rapi & teratur | 51% | Jakpat, 2025 |
| Cukup tidur | 46% | Jakpat, 2025 |
| Olahraga rutin | 45% | Jakpat, 2025 |
| Mengikuti kursus | 41% | Jakpat, 2025 |
| Belajar mandiri lewat media digital | 39% | Jakpat, 2025 |
Kursus bahasa asing, komputer, dan desain menjadi jenis pelatihan paling diminati, dipilih oleh 90% responden yang mengikuti kursus. Pola ini relevan bagi siapa pun yang sedang menyusun rencana belajar realistis — sudah dibahas lebih rinci dalam rahasia self-growth yang realistis untuk Gen Z Indonesia.
Top 7 Pendorong Gen Z Mengembangkan Diri di Tempat Kerja

Berikut rangkuman data lintas riset tentang apa yang benar-benar mendorong Gen Z belajar di lingkungan kerja.
| # | Pendorong | Angka | Sumber |
|---|---|---|---|
| 1 | Mencari mentorship dan bimbingan | 86% | Deloitte Gen Z & Millennial Survey 2025 |
| 2 | Menilai pembelajaran langsung di lapangan penting | 88% | Deloitte Gen Z & Millennial Survey 2025 |
| 3 | Paling termotivasi oleh pengembangan profesional | 65% | Udemy, 2024 |
| 4 | Membangun skill karier minimal sekali seminggu | 70% | High5Test, berbasis data BLS 2025-2026 |
| 5 | Menjadikan learning & development motivator utama kerja | 25% | CAKE.com / Deloitte |
| 6 | Memilih internet dibanding pendidikan formal untuk belajar | 66% | Deloitte Gen Z & Millennial Survey 2025 |
| 7 | Belajar mandiri lewat media digital (konteks Indonesia) | 39% | Jakpat, 2025 |
Cara Menerapkan Pola Ini secara Praktis di Tempat Kerja

- Cari mentor internal, bukan hanya pelatihan formal. Data Deloitte menunjukkan bimbingan langsung dari orang lebih berpengalaman lebih dicari Gen Z dibanding kursus generik.
- Alokasikan waktu belajar mingguan yang konsisten. Angka 70% pekerja Gen Z yang membangun skill setiap minggu menunjukkan pola kecil dan rutin lebih efektif daripada belajar sesekali dalam jumlah besar. Prinsip ini sejalan dengan pendekatan bertahap yang dibahas di self-improvement tanpa hustle culture.
- Manfaatkan sumber belajar digital yang sudah terbukti dipakai mayoritas. Karena 66% Gen Z lebih memilih internet dibanding jalur formal, kurasi sumber belajar online berkualitas jadi prioritas.
- Sambungkan pengembangan diri dengan tujuan karier konkret, bukan sekadar mengisi waktu. Langkah menyusun tujuan yang lebih terarah bisa dilihat di 7 tips goal setting SMART untuk karier.
- Jaga keseimbangan antara ambisi belajar dan pemulihan mental, mengingat tingginya angka burnout pada generasi ini.
- Tetapkan target pencapaian bertahap sebelum usia 30, sebagai kerangka waktu yang realistis — dibahas lebih lanjut di pencapaian wajib anak muda sebelum usia 30.
FAQ — Gen Z dan Pengembangan Diri di Tempat Kerja
Apa itu tren pengembangan diri Gen Z di tempat kerja?
Tren ini merujuk pada kecenderungan Gen Z mencari mentorship, pembelajaran langsung di lapangan, dan sumber belajar digital, alih-alih pelatihan formal semata — didukung data Deloitte dan Jakpat.
Berapa persen Gen Z yang benar-benar aktif mengembangkan diri?
Secara global, 86% Gen Z mencari mentorship di tempat kerja (Deloitte, 2025). Di Indonesia, 55% Gen Z dan Milenial berencana melakukan aktivitas pengembangan diri dan 32% sedang menjalankannya (Jakpat, 2025).
Terakhir diverifikasi: 25 Juli 2026. Data bersumber dari Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 & 2026, Jakpat “Exploring Self-Development Trends Among Gen Z and Millennials” (2025), Udemy Gen Z in the Workplace Report, dan High5Test Gen Z Workforce Statistics.